Minggu, 04 Mei 2014
Adab Makan
Disusun ulang oleh: Ummu Aufa
Muroja’ah: Subhan Khadafi, Lc.
a. Memulai makan dengan mengucapkan Bismillah.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 3264)
b. Hendaknya mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a: “Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Daud, Hadits Hasan)
Inilah lafadznya,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وََرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حوْلٍ مِنِّي وَ لاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”
Atau bisa pula dengan doa berikut,
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَنْدًا كثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ غَيْرَ (مَكْفِيٍّ وَ لاَ) مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنَيً عَنْهُ رَبَّناَ
“Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.” (HR. Bukhari VI/214 dan Tirmidzi dengan lafalnya V/507)
c. Hendaknya makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)
d. Hendaknya menjilati jari jemarinya sebelum dicuci tangannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai makan maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilati (oleh Isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)
e. Apabila ada sesuatu dari makanan kita terjatuh, maka hendaknya dibersihkan bagian yang kotornya kemudian memakannya.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang diantara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.” (HR. Muslim, Abu Daud)
f. Hendaknya tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak memakannya hingga menjadi lebih dingin, hal ini berlaku pula pada minuman. Apabila hendak bernafas maka lakukanlah di luar gelas, dan ketika minum hendaknya menjadikan tiga kali tegukan.
Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi)
g. Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)
h. Makan memulai dengan yang letaknya terdekat kecuali bila macamnya berbeda maka boleh mengambil yang jauh.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai anak muda, sebutkanlah Nama Allah (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari Muslim)
i. Hendaknya memulai makan dan minuman dalam suatu jamuan makan dengan mendahulukan (mempersilakan mengambil makanan terlebih dahulu) orang-orang yang lebih tua umurnya atau yang lebih memiliki derajat keutamaan.
j. Ketika makan hendaknya tidak melihat teman yang lain agar tidak terkesan mengawasi.
k. Hendaknya tidak melakukan sesuatu yang dalam pandangan manusia dianggap menjijikkan.
l. Jika makan bersama orang miskin, maka hendaklah kita mendahulukan mereka.
Disadur dari: Adab adab Harian Muslim, Ibnu Katsir
***
Artikel www.muslimah.or.id
Keutamaan dan Adab Hari Jumat
Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala.
Keutamaan Hari Jum’at
1. Hari paling utama di dunia
Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam dan mewafatkannya.
Hari Nabi Adam ‘alaihis salam dimasukkan ke dalam surga.
Hari Nabi Adam ‘alaihis salam diturunkan dari surga menuju bumi.
Hari akan terjadinya kiamat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)
2. Hari bagi kaum muslimin
Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umt Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.
Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari
Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)
4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)
Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:
a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at
Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.
b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)
Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”
5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya
Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
Adab Hari Jum’at Sesuai Sunnah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.
1. Memperbanyak Sholawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)
Shalawat yang syar’i yaitu:
اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Allåhumma shålli ‘alaa muhammad wa ‘alaa ali muhammad,
kamaa shålayta ‘alaa ibråhiim wa ‘alaa ali ibråhiim innaka hamidum majiid,
wa barik ‘alaa muhammad wa ‘alaa ali muhammad,
kamaa baaråkta ‘alaa ibrohiim innaka hamidum majiid
artinya:
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
2. Mandi Jumat
Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Menggunakan Minyak Wangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bersiwak
Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya membuat Bab khusus tentang ditekankannya bersiwak pada hari Jum’at yaitu dalam dalam Kitabul Jumu’ati Bab Ath-Thibbi Lil Jumu’ati, no. 880 dan Bab As-Siwaki Yaumul Jumu’ati, no.hadits 887, 888, dan 889).
5. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid
Abu Huråiråh rådhiyallåhu ‘anhu berkata bahwa, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila hari Jumat, maka para malaikat berdiri di pintu masjid sambil mencatat orang yang datang dahulu, lalu yang dahulu (sesudah itu). Perumpamaan orang-orang yang datang pada waktu yang paling awal adalah seperti orang yang berkurban seekor unta, berkurban sapi, berkurban kambing kibas, berkurban seekor ayam, lalu berkurban sebutir telur. Kemudian apabila imam sudah keluar (dalam satu riwayat: duduk 4/79), para malaikat itu melipat buku-buku catatannya dan mendengarkan zikir (khutbah).” (HR. Bukhari)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari).
Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
“Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)
6. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
7. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah
“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
8. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)
9. Membaca Surat Al Kahfi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)
Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya. aamiin.
Wallahu a’lam bish shåwwab
Sumber: belajarislam.or.id
Adab Islami Sebelum Tidur
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Adab islami sebelum tidur yang
seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.
Pertama: Tidurlah
dalam keadaan berwudhu.
Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’
bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ
، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Jika kamu mendatangi tempat
tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi
kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)
Kedua: Tidur
berbaring pada sisi kanan.
Hal ini berdasarkan hadits di atas.
Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring
pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk
bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung.
Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang
semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).
Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al
Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan
surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu
mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau.
Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.
Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu
‘anha berkata,
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ
كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ )
وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ )
ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى
رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa
sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua
telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul
huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al
Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau
mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau
dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang
demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017).
Membaca Al Qur’an
sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.
Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu berkata,
وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ
زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ،
فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
– . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ
الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ
شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – «
صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang
yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku
pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“.
Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan
masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika
kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena
dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat
mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu
syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)
Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa
ahyaa”.
Dari Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا
أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا
اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ
مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya
(Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur,
beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi
nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan
kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)
Masih ada beberapa dzikir sebelum
tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan
menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.
Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak
sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.
Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau
berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ
النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”
(HR. Bukhari no. 568)
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena
beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput
dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah
memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah
kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”
(Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)
Semoga kajian kita kali ini bisa
kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya
segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga dan sahabatnya.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Belajar Akhlak dan Adab Kepada Rasulullah
Dari Abu ‘Amr asy-Syaibani,
dia berkata: Pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan dengan tangan menunjuk
rumah Abdullah (Ibnu Mas’ud)- menuturkan kepadaku. Beliau berkata:
Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Amalan apakah yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla?”. Beliau
menjawab, “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau
menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya
lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berjihad di jalan Allah.”
Beliau -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau telah menuturkan kepadaku itu semua.
Seandainya aku meminta tambahan lagi niscaya beliau juga akan menambahkannya
kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 33)
[2] Berbakti Kepada Ibu
dan Bapak
Dari Bahz bin Hakim,
dari ayahnya, dari kakeknya. Kakeknya berkata, “Wahai Rasulullah! Kepada
siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku
bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.”
Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.”
Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ayahmu.
Kemudian kerabat yang terdekat dan seterusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai
hasan al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 34)
[3] Amalan Penebus Dosa
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,
ada seorang lelaki datang menemui dirinya dan menceritakan, “Suatu ketika aku
melamar seorang perempuan, akan tetapi dia tidak mau menikah denganku. Lalu ada
orang selainku yang melamarnya dan dia pun mau menikah dengannya. Aku pun
merasa cemburu kepadanya, hingga aku pun membunuhnya.Apakah aku masih bisa
bertaubat?”. Beliau -Ibnu Abbas- bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”.
Maka beliau mengatakan, “Kalau begitu bertaubatlah kepada Allah ‘azza
wa jalla dan dekatkanlah dirimu kepada-Nya sekuat kemampuanmu.” ‘Atha’
bin Yasar berkata: Aku pun berangkat kepada Ibnu Abbas dan bertanya
kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang apakah ibunya masih hidup?”. Beliau
menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang
lebih mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla daripada berbakti
kepada seorang ibu.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah,
lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 34)
[4] Dosa Besar Yang Paling
Besar
Dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Maukah aku kabarkan kepada kalian, dosa besar yang paling besar?”
Beliau mengulanginya sampai 3 kali. Mereka -para Sahabat- menjawab, “Tentu saja
wahai Rasulullah!”. Maka beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka
kepada kedua orang tua.” Beliau pun duduk setelah sebelumnya bersandar.
Lalu beliau meneruskan, “Ketahuilah, demikian pula berbicara dusta.”
Beliau terus mengulanginya sampai-sampai aku berkata, “Mudah-mudahan beliau
diam.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat
al-Maram, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 37)
[5] Lebih Utama Daripada
Berperang
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu,
beliau menceritakan: Ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ingin ikut berjihad. Maka beliau bertanya, “Apakah
kedua orang tuamu masih hidup?”. Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda,
“Kalau begitu berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR.
Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’,
lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 39)
[6] Keutamaan Doa Anak
Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Mayit akan diangkat derajatnya setelah kematiannya. Maka dia
pun bertanya, “Wahai Rabbku! Apakah ini?”. Maka dijawab, “Anakmu telah
memintakan ampunan untukmu.” (HR. Bukhari dalamal-Adab
al-Mufrad, dinilai al-Albani sanadnya hasan, lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 45)
[7] Amalan Yang Tidak
Terputus Setelah Meninggal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila seorang
hamba meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakan kebaikan bagi
orang tuanya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’,
lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 45)
[8] Jalan Menuju Surga
Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu’anhu,
beliau menceritakan bahwa suatu saat di tengah-tengah perjalanan ada seorang
arab badui muncul dan bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kabarkan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan diriku ke surga dan
menjauhkan aku dari neraka?”. Beliau pun menjawab, “Engkau beribadah
kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, lalu kamu
mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi.” (HR.
Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam at-Targhib,
lihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 48)
[9] Memuliakan Tetangga
Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha,
beliau berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku punya
dua orang tetangga. Kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?”.
Beliau menjawab, “Kepada orang yang lebih dekat pintunya denganmu di antara
mereka berdua.” (HR. Bukhari, dinilai sahih al-Albani. LihatShahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 66)
[10] Berbagi Makanan Untuk
Tetangga
Dari Ibnu az-Zubair,
beliau berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Bukanlah seorang mukmin sejati, orang yang senantiasa merasa kenyang
sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 67)
[11] Berbuat Baik Kepada
Teman
Dari Abdullah bin ‘Amr bin
al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik teman di sisi
Allah ta’ala adalah yang paling berbuat baik kepada temannya.
Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling
berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani
dalamash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad,
hal. 68)
[12] Tidak Mengganggu
Tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak akan
masuk surga, orang yang tetangganya tidak bisa merasa aman dari
gangguannya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 70)
[13] Menyantuni Janda dan
Fakir Miskin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang
berusaha untuk menyantuni janda dan orang miskin seperti orang yang
berjihad di jalan Allah, dan seperti orang yang rajin berpuasa di siang
hari dan menegakkan sholat di malam hari.” (HR. Bukhari dan
Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 74)
[14] Budak Pun Harus
Dimuliakan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang budak
memiliki hak untuk diberikan makanan dan pakaian, dan tidak boleh
dibebani pekerjaan yang dia tidak mampu untuk mengerjakannya.” (HR.
Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa‘. Lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 91)
[15] Sedekah Yang Paling
Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan
untuk bersedekah. Lalu ada seorang lelaki berkata, “Saya punya uang 1 dinar?”.
Beliau menjawab, “Nafkahilah dirimu sendiri.” Lalu dia berkata,
“Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah istrimu.”
Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab,
“Nafkahilah pembantumu, kemudian perhatikanlah yang lain.” (HR.
Nasa’i, dinilai hasan al-Albani dalam Shahih Abu Dawuddan al-Irwa’.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 92)
[16] Membalas Kebaikan
Dengan Kebaikan
Dari Jabir bin Abdullah
al-Anshari radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan
dari orang lain maka balaslah kebaikannya. Apabila dia tidak
memiliki sesuatu yang bisa untuk membalas kebaikannya, maka pujilah dia.
Karena apabila dia telah memujinya itu merupakan bentuk syukur/ucapan terima
kasih kepadanya. Dan apabila dia justru menyembunyikan hal itu, maka dia telah
mengingkarinya. Barangsiapa yang berhias diri dengan sesuatu yang tidak
dia miliki maka seolah-olah dia mengenakan dua lembar pakaian
kedustaan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij
at-Targhibdan ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 98)
[17] Termasuk Bentuk
Syukur Kepada Allah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap
bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai berterima kasih
kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 99)
[18] Menjadi Cermin Bagi
Saudaranya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata, “Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya. Apabila dia
melihat padanya suatu aib/cacat, maka dia pun berusaha untuk
memperbaikinya.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad,
dinilai sanadnya hasan oleh al-Albani. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 106)
[19] Keutamaan Akhlak
Mulia
Dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak
ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan melebihi akhlak yang mulia.” (HR.
Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih
al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 117-118)
[20] Hakikat Kekayaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bukanlah
kekayaan itu diukur dengan banyaknya perbendaharaan harta. Akan tetapi hakikat
kekayaan adalah jiwa yang merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim,
dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij al-Misykat. Lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 119-120)
[21] Sebab Yang
Menjerumuskan Ke Dalam Neraka
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam
neraka?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau
mengatakan, “Yaitu dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah
yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan
kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan
al-Albani dalam Takhrij at-Targhib. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 123)
[22] Menghormati Yang
Lebih Tua, Menyayangi Yang Lebih Muda
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di
antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua maka
dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam Shahih at-Targhib.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 142)
[23] Bergaul dan Bersabar
Menghadapi Gangguan Orang
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang
mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabarmenghadapi gangguan
mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak
bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 153-154)
[24] Menjaga Persatuan dan
Persaudaraan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Janganlah kalian
saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi.
Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara.
Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (HR.
Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat al-Maram.
LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 157)
Wallahu a’lam.
—
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id
Langganan:
Postingan (Atom)