Dari Abu ‘Amr asy-Syaibani,
dia berkata: Pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan dengan tangan menunjuk
rumah Abdullah (Ibnu Mas’ud)- menuturkan kepadaku. Beliau berkata:
Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Amalan apakah yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla?”. Beliau
menjawab, “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau
menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya
lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berjihad di jalan Allah.”
Beliau -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau telah menuturkan kepadaku itu semua.
Seandainya aku meminta tambahan lagi niscaya beliau juga akan menambahkannya
kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 33)
[2] Berbakti Kepada Ibu
dan Bapak
Dari Bahz bin Hakim,
dari ayahnya, dari kakeknya. Kakeknya berkata, “Wahai Rasulullah! Kepada
siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku
bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.”
Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.”
Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ayahmu.
Kemudian kerabat yang terdekat dan seterusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai
hasan al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 34)
[3] Amalan Penebus Dosa
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,
ada seorang lelaki datang menemui dirinya dan menceritakan, “Suatu ketika aku
melamar seorang perempuan, akan tetapi dia tidak mau menikah denganku. Lalu ada
orang selainku yang melamarnya dan dia pun mau menikah dengannya. Aku pun
merasa cemburu kepadanya, hingga aku pun membunuhnya.Apakah aku masih bisa
bertaubat?”. Beliau -Ibnu Abbas- bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”.
Maka beliau mengatakan, “Kalau begitu bertaubatlah kepada Allah ‘azza
wa jalla dan dekatkanlah dirimu kepada-Nya sekuat kemampuanmu.” ‘Atha’
bin Yasar berkata: Aku pun berangkat kepada Ibnu Abbas dan bertanya
kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang apakah ibunya masih hidup?”. Beliau
menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang
lebih mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla daripada berbakti
kepada seorang ibu.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah,
lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 34)
[4] Dosa Besar Yang Paling
Besar
Dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Maukah aku kabarkan kepada kalian, dosa besar yang paling besar?”
Beliau mengulanginya sampai 3 kali. Mereka -para Sahabat- menjawab, “Tentu saja
wahai Rasulullah!”. Maka beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka
kepada kedua orang tua.” Beliau pun duduk setelah sebelumnya bersandar.
Lalu beliau meneruskan, “Ketahuilah, demikian pula berbicara dusta.”
Beliau terus mengulanginya sampai-sampai aku berkata, “Mudah-mudahan beliau
diam.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat
al-Maram, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 37)
[5] Lebih Utama Daripada
Berperang
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu,
beliau menceritakan: Ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ingin ikut berjihad. Maka beliau bertanya, “Apakah
kedua orang tuamu masih hidup?”. Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda,
“Kalau begitu berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR.
Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’,
lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 39)
[6] Keutamaan Doa Anak
Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Mayit akan diangkat derajatnya setelah kematiannya. Maka dia
pun bertanya, “Wahai Rabbku! Apakah ini?”. Maka dijawab, “Anakmu telah
memintakan ampunan untukmu.” (HR. Bukhari dalamal-Adab
al-Mufrad, dinilai al-Albani sanadnya hasan, lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 45)
[7] Amalan Yang Tidak
Terputus Setelah Meninggal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila seorang
hamba meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakan kebaikan bagi
orang tuanya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’,
lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 45)
[8] Jalan Menuju Surga
Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu’anhu,
beliau menceritakan bahwa suatu saat di tengah-tengah perjalanan ada seorang
arab badui muncul dan bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kabarkan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan diriku ke surga dan
menjauhkan aku dari neraka?”. Beliau pun menjawab, “Engkau beribadah
kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, lalu kamu
mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi.” (HR.
Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam at-Targhib,
lihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 48)
[9] Memuliakan Tetangga
Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha,
beliau berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku punya
dua orang tetangga. Kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?”.
Beliau menjawab, “Kepada orang yang lebih dekat pintunya denganmu di antara
mereka berdua.” (HR. Bukhari, dinilai sahih al-Albani. LihatShahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 66)
[10] Berbagi Makanan Untuk
Tetangga
Dari Ibnu az-Zubair,
beliau berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Bukanlah seorang mukmin sejati, orang yang senantiasa merasa kenyang
sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 67)
[11] Berbuat Baik Kepada
Teman
Dari Abdullah bin ‘Amr bin
al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik teman di sisi
Allah ta’ala adalah yang paling berbuat baik kepada temannya.
Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling
berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani
dalamash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad,
hal. 68)
[12] Tidak Mengganggu
Tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak akan
masuk surga, orang yang tetangganya tidak bisa merasa aman dari
gangguannya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 70)
[13] Menyantuni Janda dan
Fakir Miskin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang
berusaha untuk menyantuni janda dan orang miskin seperti orang yang
berjihad di jalan Allah, dan seperti orang yang rajin berpuasa di siang
hari dan menegakkan sholat di malam hari.” (HR. Bukhari dan
Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 74)
[14] Budak Pun Harus
Dimuliakan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang budak
memiliki hak untuk diberikan makanan dan pakaian, dan tidak boleh
dibebani pekerjaan yang dia tidak mampu untuk mengerjakannya.” (HR.
Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa‘. Lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 91)
[15] Sedekah Yang Paling
Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan
untuk bersedekah. Lalu ada seorang lelaki berkata, “Saya punya uang 1 dinar?”.
Beliau menjawab, “Nafkahilah dirimu sendiri.” Lalu dia berkata,
“Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah istrimu.”
Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab,
“Nafkahilah pembantumu, kemudian perhatikanlah yang lain.” (HR.
Nasa’i, dinilai hasan al-Albani dalam Shahih Abu Dawuddan al-Irwa’.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 92)
[16] Membalas Kebaikan
Dengan Kebaikan
Dari Jabir bin Abdullah
al-Anshari radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan
dari orang lain maka balaslah kebaikannya. Apabila dia tidak
memiliki sesuatu yang bisa untuk membalas kebaikannya, maka pujilah dia.
Karena apabila dia telah memujinya itu merupakan bentuk syukur/ucapan terima
kasih kepadanya. Dan apabila dia justru menyembunyikan hal itu, maka dia telah
mengingkarinya. Barangsiapa yang berhias diri dengan sesuatu yang tidak
dia miliki maka seolah-olah dia mengenakan dua lembar pakaian
kedustaan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij
at-Targhibdan ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 98)
[17] Termasuk Bentuk
Syukur Kepada Allah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap
bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai berterima kasih
kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 99)
[18] Menjadi Cermin Bagi
Saudaranya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata, “Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya. Apabila dia
melihat padanya suatu aib/cacat, maka dia pun berusaha untuk
memperbaikinya.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad,
dinilai sanadnya hasan oleh al-Albani. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 106)
[19] Keutamaan Akhlak
Mulia
Dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak
ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan melebihi akhlak yang mulia.” (HR.
Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih
al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 117-118)
[20] Hakikat Kekayaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bukanlah
kekayaan itu diukur dengan banyaknya perbendaharaan harta. Akan tetapi hakikat
kekayaan adalah jiwa yang merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim,
dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij al-Misykat. Lihat Shahih
al-Adab al-Mufrad, hal. 119-120)
[21] Sebab Yang
Menjerumuskan Ke Dalam Neraka
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam
neraka?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau
mengatakan, “Yaitu dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah
yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan
kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan
al-Albani dalam Takhrij at-Targhib. Lihat Shahih al-Adab
al-Mufrad, hal. 123)
[22] Menghormati Yang
Lebih Tua, Menyayangi Yang Lebih Muda
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di
antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua maka
dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam Shahih at-Targhib.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 142)
[23] Bergaul dan Bersabar
Menghadapi Gangguan Orang
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang
mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabarmenghadapi gangguan
mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak
bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah.
Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 153-154)
[24] Menjaga Persatuan dan
Persaudaraan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Janganlah kalian
saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi.
Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara.
Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (HR.
Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat al-Maram.
LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 157)
Wallahu a’lam.
—
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar